Kisah Pondok Labu 211 Tahun Lalu
Java Gov--
Surat kabar itu menampilkan Reglement en Tarief voor de Bazaars: ditetapkan atas nama Raja Willem I dan disahkan Komisaris Jenderal Leonard Pierre Joseph du Bus de Gisignies. Dalam daftar pasar resmi itu tertulis jelas: “Pondok-laboe (Simplicitas.) … op vrijdag”: Pasar Pondok Laboe resmi buka tiap hari Jumat. Pasar-pasar lain yang tak terdaftar? Diancam bongkar paksa plus denda 1.000 sampai 5.000 gulden. Zaman itu, jualan sembarangan bukan cuma digusur Satpol PP, tapi digusur sampai masuk bui.
Kepemilikan tanah Simplicitas terus berpindah tangan sampai awal abad ke-20. Sebuah iklan jual-beli di Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 4 Agustus 1913 mencatat sebagian lahan di Pondok Laboe-Karang Tengah, seluas sekitar 415 bau dengan nilai pajak (verponding) f 29.984, dilepas ke publik. Barulah menjelang sensus 1930, lahan ini sepenuhnya diakuisisi pemerintah dan dipecah jadi desa-desa administratif, salah satunya cikal bakal Desa Pondok Laboe yang kita kenal sekarang.

Simplicitas, Rumah penggilingan di Pondok Labu--
Efek Ali Sadikin
Setelah republik berdiri dan sistem tanah partikelir dihapus, Pondok Labu untuk sementara kembali sepi, lantaran isinya sawah dan kebun, penduduknya tak seberapa. Titik baliknya baru datang di era Gubernur Ali Sadikin (1966–1977), nama yang berulang kali muncul dalam sejarah Pondok Labu, meski dalam dua “jabatan” yang jauh berbeda.
Awal 1960-an, ketika masih Brigadir Jenderal Korps Komando (KKO) dan menjabat Pembantu Menteri Angkatan Laut Bidang Logistik, Bang Ali berinisiatif menghimpun dana santunan dari para pengusaha Jakarta dan Surabaya. Dana ini disiapkan sebagai jaminan bagi enam belas ribu prajurit TNI-AL yang tergabung dalam Operasi Jayawijaya, operasi yang direncanakan untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda. Dengan dana itu, pada 1963 dibeli tanah 408 hektare di kawasan yang sekarang dikenal Pangkalan Jati. Operasi militernya sendiri batal, sebab 15 Agustus 1962 tercapai Perundingan New York yang menyepakati referendum di bawah kendali UNTEA. Tapi tanahnya, ya, sudah kadung dibeli.
Awal 1964, di atas lahan itu mulai dibangun perumahan dinas TNI-AL, cikal bakal Komplek TNI-AL Pangkalan Jati yang berdiri sampai sekarang, dengan 574 kavling di atas sekitar 33 hektare dari total lahan tadi. Belasan tahun kemudian, 1 September 1976, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI R.S. Soebiakto menerbitkan surat keputusan yang memperjelas hak atas kavling-kavling itu bagi para penghuninya.
Warga mulai berdatangan, urusan fasilitas sosial menjadi kebutuhan. Di tengah Komplek TNI-AL Pangkalan Jati, Jalan Jati Raya Barat, berdiri Masjid Jami’ Imam Bonjol. Diresmikan 16 April 1981, hampir dua dekade setelah tanah Pangkalan Jati pertama dibeli, oleh Kepala Staf Angkatan Laut waktu itu, Laksamana Madya Waloejo Soegito. Direnovasi dan diresmikan ulang 12 November 1993 oleh KSAL Laksamana Tanto Koeswanto, dan sampai kini masih jadi salah satu pusat kegiatan keagamaan keluarga besar TNI-AL di Pangkalan Jati.
Jabatan kedua Ali Sadikin datang belakangan, saat sudah jadi Gubernur DKI Jakarta. Di bawah kepemimpinannya, sawah dan kebun di Pondok Labu mulai berubah jadi lahan permukiman, mengikuti derap urbanisasi Jakarta yang waktu itu melaju kencang. Salah satu proyek pentingnya: pembangunan Jalan Pondok Labu, menghubungkan kawasan ini dengan Desa Pangkalan Jati dan Desa Gandul di Limo, kini wilayah Kota Depok, menjadikan Pondok Labu titik penghubung Jakarta dengan kawasan selatan.
Status hukum batas wilayah Kecamatan Cilandak, tempat Pondok Labu bernaung, juga baru pertama kali ditetapkan di era ini, lewat SK Gubernur KDKI Jakarta Nomor 435 Tahun 1966.
Tepat pada 23 Mei 1967, Bang Ali meresmikan Rumah Sakit Fatmawati berikut jalan yang membentang dari Blok A sampai RS Fatmawati itu. Akses inilah salah satu pendorong berkembangnya kawasan Pondok Labu dan sekitarnya. .
Urbanisasi yang kian deras itu pula yang menggerakkan seorang tokoh masyarakat setempat, Haji Saleh, menyumbangkan sebagian lahannya untuk sekolah dasar, cikal bakal SD Negeri Pondok Labu 03, 04, 09, dan 010 Pagi, yang kini digabung jadi SD Negeri Pondok Labu 03.
Haji Saleh yang asli Betawi ini juga bermurah hati menjual dengan separuh harga pasaran masa itu, untuk pembangunan Kampus UPN “Veteran” Jakarta pada tahun 1967.
Sekolah yang Dibangun di Atas Rawa
Sumber: