Pasar Minggu, Riwayatmu Dulu
--https://www.senibudayabetawi.com/7283/muasal-pasar-minggu-benarkah-hanya-pasar-di-hari-minggu.html
Masyarakat Pasar Minggu terbiasa bergaul antarbangsa.
Kerajaan Pakuan-Pajajaran adalah negara pertama di Nusantara yang membuat perjanjian internasional modern, didokumentasikan secara resmi, memiliki standar perjanjian antarpemerintah dengan Bangsa Portugis ditandatangani di Malaka, 21 Agustus 1522,
Jauh kemudian hari, suku-suku bangsa yang dipekerjakan Belanda di perkebunan; Makassar, Jawa, Bali, dan sebagainya, memperkaya kebudayaan Betawi Pasar Minggu yang disebut Betawi Ora, pedalaman.
Apakah mereka yang menurunkan suku Betawi?
Kesimpulan para ahli yang lebih modern berdasarkan hasil penelitian yang lebih baru yang dipelopori Prof. Hasan Djafar, Uka Tjandrasasmita, masyarakat Betawi Ora di Pasar Minggu adalah penerus langsung dari penduduk purba di masa prasejarah.
Mereka pemilik tanah asli yang kebudayaannya berevolusi secara organik.
Narasi keturunan budak perkebunan kolonial adalah kekeliruan sejarah akibat keterbatasan sumber data peneliti Barat, terutama Lance Castles, 1967, dan bias arsip serta pandangan ahli-ahli Belanda.
Para ilmuwan modern lazim kena kerja melurus-luruskan sejarah yang dibelok-belokkan untuk kepentingan kolonial di berbagai tempat di Hindia Belanda.
Prof. Hasan Djafar, Uka Tjandrasasmita, Saleh Danasasmita, Ali Akbar, Ridwan Saidi adalah lima dari banyak ahli sejarah, filologi, antropologi, arkeologi, budaya yang buku-bukunya pernah dibaca di masa lalu sebagian, sebagian lagi dibaca ulang sebagai rujukan untuk menceritakan kisah ini.
Rujukan ilmiah mudah didapat.
Mereka banyak menulis buku, risalah hasil penelitian, artikel di media massa.
Baik yang spesifik tentang Pasar Minggu, atau yang menjadi bagian dari cerita sejarah Ciliwung, Pakuan-Pajajaran, Situs Pejaten, Tanjung Jaya (kini Tanjung Barat), dan semacamnya.
Arsip dan terbitan Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (Pusat Arkeologi Nasional), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Bogor, dan penerbit independen seperti Komunitas Bambu.
Tulisan ini, hanya sari dari buku-buku mereka yang dibacakan untuk Nana.
Bukti-bukti fisik artefak hasil ekskavasi, naskah-naskah kuno, dapat dilihat di Museum Gajah dan Pusat Arkelogi Nasional.
Sumber: