Pasar Minggu, Riwayatmu Dulu

Pasar Minggu, Riwayatmu Dulu

--https://www.senibudayabetawi.com/7283/muasal-pasar-minggu-benarkah-hanya-pasar-di-hari-minggu.html

Ia tahu hampir semua hal tentang wilayah ini, kecuali masa lalunya. Begitu juga hampir semua orang Pasar Minggu. Asli maupun pendatang.

Turunlah di Stasiun Pasar Minggu, keluar pintu timur, ikuti Jalan Medjid Al Makmur menurun ke Kali Ciliwung, sekitar 200 meter, itu seluruhnya lembah yang telah padat perumahan penduduk.

Lewati Mesjid Al Makmur, yang dibangun sekitar tahun 1900, beberapa puluh meter sebelum tepi kali yang sudah sangat mengecil di dasar lembah, itulah pusat hunian prasejarah tertua di seluruh wilayah  DKI Jakarta.

Para ahli mencatat, wilayah itu telah dihuni sekitar abad 10 Sebelum Masehi.

Siapa mereka?

Kajian antropologi dan arkeologi memperkirakan mereka berasal dari gelombang besar migrasi rumpun penutur bahasa Austronesia, ras Mongoloid, yang bermigrasi dari wilayah Formosa (Taiwan) dan Tiongkok Selatan, sekitar 4.000-3.000 tahun yang lalu.

Bagaimana bisa sampai di situ?

Melalui jalur laut dari Taiwan menggunakan perahu bercadik yang sudah canggih untuk masa itu.

Mula-mula, masuk Filipina, menyebar ke Sulawesi, terus ke Kalimantan, menyeberang ke Pantai Utara Pulau Jawa di wilayah Jakarta dan sekitarnya, menetap di Situs Kebudayaan Buni, Bekasi kini.

Makin lama, populasi mereka makin banyak, sebagian bermigrasi ke pedalaman menelusuri Kali Ciliwung, terus ke arah hulu hingga menemukan kelokan sungai yang membentuk daratan seperti tanjung, tanah aluvial yang sangat subur, di situlah mereka menetap, berkembang biak menjadi masyarakat, membangun kebudayaan.

Para ahli sejarah menyebut mereka Gelombang Deutro Melayu alias Melayu Muda.

Kelak, ribuan tahun kemudian, tempat itu bernama Tanjung Jaya, lokasi kerajaan satelit Pakuan-Pajajaran di hulu Ciliwung, Bogor sekarang.

Merekalah, menurut para ahli, leluhur suku Sunda dan Betawi secara fisik, secara kebudayaan di kemudian hari berkembang dengan pengayaan interaksi berbagai kebudayaan yang dibawa kaum pendatang Arab, Persia, Tionghoa, India.

Pada “Era Klasik”, kurun abad 14-16 Masehi, masyarakat Sunda-Betawi Pasar Minggu di Tanjung Jaya, digambarkan para ahli sebagai masyarakat “metropolitan kuno yang heterogen”, komunitas yang terbuka, karena berada di titik persilangan jalur perdagangan utama Pajajaran dengan pelabuhan internasional Kalapa, sekarang Sunda Kelapa.

Di masa itu, Ciliwung jauh lebih lebar dan dalam, lazim dilayari perahu dan kapal dagang dari Pelabuhan Kalapa hingga wilayah Bogor, berdasarkan catatan Tome Pires, penjelajah asal Portugis, 1513, sekitar 83 tahun sebelum kedatangan Belanda pertama kali di pelabuhan yang sama, 13 November 1596, saat sudah bernama Jayakarta.

Sumber: