Lima Pemain Klub Batavia Berlaga di Piala Dunia

Lima Pemain Klub Batavia Berlaga di Piala Dunia

Hindia Belanda dicukur Hongaria di Piala Dunia 1938-Dagblad van Noordbrabant en Zeeland (4 Juni 1938)-

Namun susunan yang benar-benar diturunkan di lapangan ternyata sedikit berbeda dari prediksi koran. Berdasarkan  data RSSSF, yang merujuk catatan resmi periode itu, susunan sebenarnya adalah: Mo Heng, Hukom, Samuels (Kolle), Nawir (kapten), Anwar, Hong Djien, Soedarmadji, Zomers, Pattiwael, Taihitu, dan Frans Meeng, yang menggantikan posisi yang semula diprediksikan untuk van den Burgh dan See Han.

Dari sebelas pemain itu, lima orang membawa nama klub Batavia. Dari klub S.V.J.A  Jong Ambon ada  Isaac "Tjaak" Pattiwael dan M.J. Hans Taihitu. 

Kemudian, Herman Zomers dari klub Hercules, lalu  Frans Alfred Meeng dari SVBB, terakhir adalah J. (Sutan) Anwar dari klub VIOS (Meester Cornelis).

Sementara pemain lain dalam skuad berasal dari klub-klub luar Batavia: kapten Achmad Nawir dan Suvarte Soedarmadji dari HBS Soerabaja, kiper Mo Heng dari HCTNH Malang, Hukom dari Sparta Bandoeng, Samuels/Kolle dari Excelsior Soerabaja, dan Hong Djien dari klub Tiong Hoa Soerabaja.

 

Eddy Meeng, gelandang tengah SVBB, sempat bercerita secara perinci kepada sejarawan Humphrey de la Croix. Dalam artikel yang terbit di bulan Desember 2007 itu, Eddy menceritakan kalau Frans (adik Eddy) merupakan salah satu tim inti NIVU. Eddy Meeng, sebenarnya juga berpeluang masuk skuad, tetapi gagal terpilih karena statusnya sebagai anggota dinas Angkatan Laut tidak mengizinkan cuti panjang.

Kedua bersaudara ini adalah produk asli sepak bola Batavia: Eddy bergabung dengan SVBB sejak usia 13 tahun pada 1921, sementara Frans menjadi andalan klub yang sama hingga bertolak ke Prancis 17 tahun kemudian. Puncak karier mereka di level klub terjadi pada final kejuaraan Jawa 1933 di Bandoeng, ketika SVBB mengalahkan Soerabaja 4-3.  

Kisah Frans Meeng berakhir tragis. Setelah pendudukan Jepang, ia menjadi tawanan perang dan meninggal pada 1944 dalam tenggelamnya kapal Junyo Maru yang ditorpedo kapal selam Inggris HMS Tradewind di lepas pantai Sumatra.

Tenggelam Ditelan Zaman

Kiprah tim Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 sempat menjadi sumber kebanggaan, tapi setelah kemerdekaan Indonesia 1945, kisah "Tim Kurcaci" ini — julukan yang disematkan mengingat postur para pemainnya — perlahan dilupakan dari ingatan publik sepak bola nasional. Klub-klub yang dulu melahirkan mereka pun mengalami nasib beragam: SVBB dibubarkan pada 24 September 1939, tak lama sebelum pecahnya Perang Dunia II di Eropa, sementara Hercules dan VIOS terus bertransformasi mengikuti perubahan struktur sepak bola Indonesia pascakemerdekaan.

Namun jejak itu tak sepenuhnya hilang. Cucu Isaac Pattiwael, John Pattiwael, dalam wawancara dengan BandungBergerak.id, masih menyimpan kisah dari kakeknya, termasuk cerita tentang gol yang dianulir wasit saat melawan Hongaria. 

Kisah-kisah semacam inilah yang menjadi pengingat bahwa jauh sebelum Piala Asia atau kualifikasi Piala Dunia modern, lapangan-lapangan sepak bola Batavia di belakang kebun binatang (Cikini), di Meester Cornelis, di lapangan BVC,  pernah menjadi tempat lahirnya sepak bola internasional Indonesia.

Dari Batavia berlaga di Piala Dunia. 

Ampera, Juli 2026. 

Sumber: