Hikayat Betawi: Antara Fakta dan Fiksi

Hikayat Betawi: Antara Fakta dan Fiksi

Adegan Si Doel Anak Betawi-Kompas/istimewa-https://entertainment.kompas.com/read/2018/08/02/170350610/kisah-rano-karno-dan-film-si-doel-anak-betawi-1973?page=all

Ada lagi yang penasaran soal kebenaran Pitung. Margreet van Till, sejarawan Belanda, melakukan penelitian tentang keberadaan Pitung yang artikelnya terbit di jurnal KITLV berjudul "In Search of Pitung: The History of an Indonesian Legend" (1996). 

Dalam artikelnya, van Till menerakan, jauh sebelum film Si Pitung (1970) muncul, Wong Brothers sudah membuat film berjudul Si Pitoeng pada tahun 1931. Rancak Si Pitung, yang menjadi salah satu rujukan artikel itu juga memperlihatkan, bagaimana perdebatan perihal siapa Pitung ini. 

Perihal sosok Pitung, hingga kini masih jadi perdebatan. Ada yang menggangap Pitung adalah pendekar asal Marunda, ada pula yang beranggapan Pitung bukanlah seseorang, melainkan sebuah gerakan pembebasan dari penjajahan Belanda di Tanah Betawi. 

Coba longok buku karya Iwan Mahmoed Al-Fatah (Gramedia, 2017). Kata Al-Fatah, Pitung merupakan singkatan dari "Pituan Pitulung", yaitu gerakan tujuh pendekar alumni pesantren binaan H. Naipin di Kebon Pala, Tenabang, yang digembleng ilmu keislaman dan berjihad melawan penjajahan di Jayakarta.

Meski di toko buku Gramedia masuk kategori fiksi, namun buku itu mengambil sumber dari  Kitab Al-Fatawi karya Datuk Meong Tuntu, yang disalin ulang dalam bahasa Arab Melayu oleh KH Ratu Bagus Ahmad Syari'i Mertakusuma pada 1910. 

Kalau Pitung (baik individu maupun sebuah gerakan) dalam sudut pandang penulis tadi adalah pahlawan, lain cerita bila dilihat dari kacamata Belanda. Seperti pengumuman yang termuat di koran "Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage" terbitan 22-05-1893.  Dituliskanlah bahwa Pitung dan Djiie, adalah pembunuh di Bekasi yang berhasil kabur dari penjara Meester-Cornelis, sehingga sesiapa  dapat menangkapnya, bakal diganjar hadiah 300 gulden. 

Nah, kontradiksi ini pada akhirnya memang perlu kajian ilmiah yang lebih mendalam.  Tradisi lisan semacam buleng, sohibul hikayat, hingga gambang rancag, yang banyak mengangkat cerita fiksi di Tanah Betawi, bisa menjadi pintu masuk untuk menggali bukti-bukti otentik lain.  

Itulah mengapa, www.betawipedia.com tak menafikan kisah fiksi. Meski terdengar utopia, setidaknya dalam menuliskan cerita ataupun artikel, selalu berupaya dilengkapi dengan data-data tertulis maupun bukti-bukti lain. 

Maka, atas nasihat Bang HJ perihal "Jangan berdebat dengan orang yang tak bisa membedakan fiksi dan sejarah. Mereka umumnya tukang ngotot belatung," saya akur-seakur-akurnya. 

Dengan demikian, hati menjadi tenang menjadikan hidup bahagia dengan taisen saya: perempuan Betawi asal Pecandran, Senayan.

Nah, itu fakta bukan fiksi!

Ampera, 2026

Sumber: