BETAWIPEDIA. Saban sincia alias tahun baru Tionghoa menjelang, hati berasa girang. Perkaranya apalagi kalau bukan soal pindang Bandeng. Terbayang, lidah bakal dibanjiri aneka rasa istimewa: ada gurih, manis dan sesekali meluncur aroma ‘gosong’ aneka rimpang yang menyembur indra penciuman.
“Biar harum, bumbu-bumbunya memang ada yang perlu dibakar dulu. Misalnya, jahe dan kunyitnya. Tapi, selain itu, pemilihan kecap juga menjadi kunci,” sebut Bintan Humeira, perempuan Betawi membuka rahasia sedapnya pindang Bandeng. Lebih lanjut, kandidat Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia ini menyebut, selain kecap, kehadiran pete juga memegang peranan penting. “Ambil aromanya aja, jadi wangi ‘tipis-tipis’,” sebutnya lagi.
Pindang Bandeng, begitu sebagian orang Betawi menyebutnya, merupakan salah satu sajian khas saban tahun baru Tionghoa di Tanah Betawi. Masakan ini memang mengundang selera. Pasalnya, Bandeng yang dimasak punya ukurannya tak biasa.Sampai 8 Kilogram!
Bandeng boleh dibilang ikan yang tak punya musim. Maklum, chanos-chanos, begitu nama latin ikan ini, memang diternakkan di sejumlah tambak di berbagai pulau Nusantara. Sentra untuk di Jakarta, ada di CIlincing, Jakarta Utara Tetapi pasokan buat Ibu Kota, juga terkadang didatangkan dari Semarang, Jawa Barat atau bahkan Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Namun, Bandeng yang biasanya dikonsumsi itu, berukuran tak lebih dari 500 gram per ekor. Nah, khusus saban imlek menjelang, Bandeng yang didagangkan, sengaja dipelihara setahun lamanya.
Seperti dikutip dari laman Gerbang Jakarta, Bandeng ukuran jumbo biasanya muncul di daerah Rawa Belong. Chonus-chonus dijajakan dengan ukuran mulai 1,5 kilogram hingga 8 kilogram, bahkan ada yang mencapai hingga 10 kilogram per ekor.
Dalam liputannya, sedikitnya ada 15 pedagang menjajakan ikan yang oleh orang Makassar disebut Bolu. Salah seorang pedagang bernama Ata (60), warga Betawi Kemanggisan, mengaku berdagang ikan ini di Rawa Belong sejak 1980-an.
“Dulu yang dagang dari daerah Kemanggisan, Kebon Jeruk, dan sekitarnya. Sekarang yang dagang dari berbagai tempat,” ungkap Ata.
baca juga: “Nyahi, Tradisi ‘High Tea’ Tanah Betawi”
Pedagang lain, Fauzi, mengatakan kalau tradisi jual Bandeng dilakukannya setiap tahun. Dari mana Bandeng berukuran besar ini didapat? Fauzi yang berdagang bersama orang tuanya, menjelaskan kalau ikan yang dijualnya berasal dari Cilincing, Jakarta Utara. Fauzi menjual Bandeng mulai dari ukuran 3 kilogram sampai 8 kilogram. “Satu kilonya dijual Rp 75.000,” ungkap Fauzi.
Menyajikan Bandeng sebagai sajian istimewa sudah tercatat koran Maasbode, terbitan tahun 1925 yang beredar di Batavia. Dalam liputannya diterakan, orang Tionghoa dalam merayakan Imlek biasa makan olahan ikan Bandeng. Sedangkan di Rawa Belong dan sekitarnya tradisi ini menjadi bagian agenda silaturahmi orang Betawi ke mertua dengan membawa Bandeng sebagai antaran. “Zaman dulu biasanya selain bawa Bandeng, juga bawa kecap, pete, dan kue keranjang,” ungkap Ata.
Begini Cara Masaknya
Cukuplah cerita perihal asal-usul sajian ini. Seperti pada awal tulisan, bagi yang ingn mencicipi sajian ini, bolehlah menjajal resep yang dituliskan Bintan seperti pada awal tulisan. Tentu saja, resep ini bisa pula ditambahkan atau dikurangi bumbu sesuai selera. Nah begini resep dan cara membuatnya.
Bahan-bahan:
1 ekor Bandeng ukuran 1-2 kg potong-potong menjadi 8 bagian atau sesuai selera