Kisah Pondok Labu 211 Tahun Lalu

Sabtu 22-08-2026,21:47 WIB
Reporter : Rizka
Editor : Rizka

“Lu, anak Jaksel mana?”

“Ampera, Cilandak. Dulu sih, Pondok Labu.”

“Ahh, Pondok Labu mah Jaksel pinggir. Gua dong, anak Kebayoran, itu baru Jaksel!” kata rekan saya sembari terkekeh.

Ada benarnya. Pondok Labu, memang pinggiran Jakarta. Sebelah Selatan, Cinere-Depok. Utara, Cilandak Barat-Jaksel. Timur, Cilandak Timur dan Barat, Lebak Bulus. Tak salah, Pondok Labu, Jakarta Pinggir. 

Andai saja 211 tahun lalu, tepatnya tahun 1815, Thomas Stamford Raffles tidak dikejar setoran pajak, bisa jadi Pondok Labu bukanlah wilayah Batavia alias Jakarta. Bule yang mengaku-aku penemu bunga Bangkai ini, memang ditugaskan mengeruk dana sebesar-besarnya di koloni Hindia. 

Londo Inggris yang satu ini memang punya kuasa di tanah Hindia Belanda. Jabatannya Lieutenant-Governor of Java (1811–1816); setingkat di bawah Gilbert Elliot Murray Kynynmound, Gubernur Jenderal India (1807-1813) yang menjajah wilayah Hindia. 

Layaknya penjajah, setiap negara koloni kudu setor pajak. Maka, demi tertib administrasi, Raffles keluarkan "proklamasi". Rinciannya ada di Java Government Gazette edisi Sabtu, 19 Agustus 1815, maklumat itu memperluas batas yurisdiksi Kota dan Pinggiran Batavia ke barat sampai Sungai Tjidanie (Cisadane) dan ke timur sampai Sungai Tjitaroem (Citarum), sekaligus mencaplok sejumlah lahan partikelir di antara kedua batas itu. Atas beleid ini, Pondok Labu tak lagi masuk wilayah Buitenzorg alias Bogor.

Salah satu nama yang disebut eksplisit dalam maklumat itu: “Lands Pondok Laboe” berdampingan dengan Simplicitas, Lebak Bolos, Trogong, Tjirenda, dan Tombang. Berlaku sejak 1 September 1815, ditandatangani sendiri oleh “THOS. S. RAFFLES”, disahkan oleh sekretarisnya, C. Assey.

Sejak itu, nama Pondok Laboe untuk kali pertama nangkring di dokumen resmi negara. Kejadiannya empat tahun sebelum Raffles menyeberang ke Singapura dan mendirikan kota pelabuhan yang belakangan jadi salah satu paling maju di dunia. Jadi kalau ditanya siapa yang lebih tua secara catatan resmi, Pondok Labu atau Singapura? Jawabannya sudah bisa ditebak.

Simplicitas, Rumah Peristirahatan yang Jadi Cikal Bakal Pasar

Sebelum akrab dengan nama Pondok Laboe, kawasan ini sesungguhnya bagian dari tanah partikelir (particuliere landerijen) bernama Simplicitas. Sistem kepemilikan macam ini lazim di sekitar Batavia sejak era VOC: tuan tanah pribadi pegang hak penuh atas lahannya, termasuk hak memungut pajak dari pasar yang tumbuh di wilayahnya. 

Awal abad ke-19, tanah Simplicitas dimiliki meneer Pieter Walbeck, yang membangun penggilingan padi dan rumah peristirahatan tak jauh dari Kali Pesanggrahan, sebelah utara Rempoa. Dari nama rumah peristirahatan itulah pasar mingguan setempat mula-mula disebut Pasar Simplicitas, sebelum orang-orang lebih doyan sebut yang gampang di lidah, lambat laun lebih terbiasa menyebutnya Pasar Pondok Laboe. Cikal bakal pasar yang, dengan segala perubahannya, masih berdiri sampai hari ini.

Begitu Inggris menguasai Jawa, pemerintah pendudukan dibawah kendali Raffles menertibkan pajak atas pasar-pasar di tanah partikelir, termasuk pasar Pondok Laboe. Kebijakan itu disesuaikan lagi begitu kekuasaan dikembalikan ke Belanda pasca-Konvensi London 1814. 

Jejaknya tercatat dalam Bataviasche Courant edisi 19 Juli 1817. Koran itu memuat aturan pajak pasar lima persen dari hasil sewa, ditandatangani J.M. van Beusechem atas nama Ontfanger van ’s Lands Middelen, Batavia. Belasan tahun berselang, dalam Javasche Courant No. 138 tertanggal 24 November 1829, aturan itu diperinci lagi. 

Surat kabar itu menampilkan Reglement en Tarief voor de Bazaars: ditetapkan atas nama Raja Willem I dan disahkan Komisaris Jenderal Leonard Pierre Joseph du Bus de Gisignies. Dalam daftar pasar resmi itu tertulis jelas: “Pondok-laboe (Simplicitas.) … op vrijdag”: Pasar Pondok Laboe resmi buka tiap hari Jumat. Pasar-pasar lain yang tak terdaftar? Diancam bongkar paksa plus denda 1.000 sampai 5.000 gulden. Zaman itu, jualan sembarangan bukan cuma digusur Satpol PP, tapi digusur sampai masuk bui.

Kategori :

Terkait

Sabtu 22-08-2026,21:47 WIB

Kisah Pondok Labu 211 Tahun Lalu

Terpopuler