Nasihat Bang Haris Jauhari, membuat hati saya girang. Jurnalis kawakan, meluangkan waktu kasih petuah untuk kelola situs www.betawipedia.com.
Bang HJ, begitu saya biasa menyapa, bukan jurnalis kemaren sore. Meski mengaku lebih suka membaca novel petualangan ketimbang belajar saat sekolah dulu, dia itu salah satu murid SD Adabiah, Padang. Itu sekolah bukan asal sekolah. Pendirinya adalah Syeh Abdullah Ahmad, ulama dan tokoh pendidikan terkemuka di Padang, Sumatra Barat pada tahun 1915.
Apalagi, sebagai jurnalis kawakan sejak era Soeharto hingga kini, tentu saja koleganya di lingkar elit politik tanah air bejibun. Maklum, ia juga menjadi pencetus dan pengasuh gelar wicara di TV yang bertajuk "Demi Bangsa".
Maka, atas nasihatnya saya bergembira. Ia bilang : Jangan anti dengan fiksi, mitos ataupun dongeng dalam menulis di www.betawipedia.com, apa sebab?
Saya cerna dan renungkan. Perkara fiksi ini memang menarik. Ia bisa membangkitkan segala imajinasi, baik negatif maupun positif. Ambil contoh kisah "Si Doel Anak Betawi" dan "Winnetou-Old Shatterhand".
Perkara pertama, Si Doel Anak Betawi yang kondang di seluruh Negeri adalah hasil rekaan sastrawan asal Minang: Datuk Aman Madjoindo (DAM) di tahun 1932. Walau sudah tergolong lawas, gaungnya masih terasakan hingga kini. Bahkan, saking kondangnya, saat kampanye menjadi pemimpin DKI Jakarta di tahun 2024, Rano Karno yang membintangi film "Si Doel Anak Betawi" (1973) racikan Sjuman Djaja dan kemudian membuat sinetron "Si Doel Anak Sekolahaan" (1994), berhasil mengidentiikan dirinya dengan Doel rekaan DAM.
Faktanya, Rano karno jauh dari sosok Doel buatan DAM. Rano, berasal dari keluarga seniman. Ayahnya, Soekarno M. Noer adalah bintang film ternama. Berdarah Minangkabau, kakek-nenek dari garis ayah Rano adalah Mohammad Noer dan Janimah asal Bonjol, Sumatera Barat.
Sementara Doel, tokoh rekaan DAM, adalah anak usia sekolah yang harus berjuang lantaran babe-nya yang supir truk wafat. Rajin mengaji, suka menolong dan taat pada orang tua. Sosok rekaan ideal DAM yang terinsipirasi dari tetangganya selama ia tinggal di Jatinegara.
Akan halnya perihal kedua, Winnetou dan Old Shatterhand yang dikarang Karl May, punya cerita menarik. Jan Fleischhauer, kolumnis Der Spiegel dalam tulisannya untuk mengenang 100 tahun wafatnya Karl May (30/03/2012) menceritakan, sejatinya semua yang ditulis May tentang petualangan tokoh-tokoh ciptaannya, hanyalah fiksi belaka. May saat menulis itu, hanya berbekal membaca buku di perpustakaan penjara. May, sebelumnya adalah kriminal yang kerap berurusan dengan penegak hukum.
May yang lahir di Sachsen, Jerman pada tahun 1842 ini begitu menjiwai tulisan, sehingga ia tidak bisa lagi membedakan mana imaginasi, manapula yang asli. Pun demikian sebagian pembacanya, meyakini tokoh itu nyata. Maklum, May kerap kali tampil ke publik dengan berpakaian ala Old Shatterhand: berbaju kulit, dengan menenteng senapan.
Walau fiksi, cerita itu bisa membius jutaan orang yang membaca novelnya. Sebab, May mendasarkan ceritanya dari berbagai buku, atlas dan referensi yang dibacanya selama di penjara yang kemudian dituliskan dengan menambahkan imajinasinya. Para pembaca seperti dibawa ikut dalam petulangan imajinasinya itu. Tak heran banyak tokoh-tokoh masyhur menikmati cerita Winnetou-Old Shatterhand. Di luar mereka, tak sedikit pula yang menganggapnya kisah ini adalah cerita nyata seperti halnya Pitung di Tanah Betawi.
Bukankah Pitung hasil rekaan belaka?
Jangan buru-buru menyimpulkan. Pitung punya banyak versi. Lukman Karmani, penulis "Si Pitung: Tjerita Klasik Djaman Betawi" (1969) jadi salah satu yang mengangkat sosok Pitung. Boleh jadi ini hasil imajinasinya, tetapi kemudian Nawi Ismail mengangkatnya ke layar lebar dengan dibintangi Dicky Zulkarnain (Si Pitung, 1970).
Ada lagi yang penasaran soal kebenaran Pitung. Margreet van Till, sejarawan Belanda, melakukan penelitian tentang keberadaan Pitung yang artikelnya terbit di jurnal KITLV berjudul "In Search of Pitung: The History of an Indonesian Legend" (1996).