"DIJUAL: Seekor sapi hibrida Eropa, menghasilkan 10 botol susu per hari. ONG ENG HO, 979 dekat halte Passer Minggoe"
Iklan di koran Java Bode terbitan 20-03-1889
Sebuah iklan di koran "Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie". Batavia, terbitan 20-03-1889, menarik disimak. Semasa Batavia 'dikangkangi' Belanda, Pasar Minggu sudah terkenal sebagai jalur utama perdagangan. Sibuk!
Kutipan lain menegaskan hal ini. Salah satu artikel di Bataviaasch Nieuwsblad, terbitan 13-12-1893, memberitakan:
Kutipan berita dari Bataviaasch nieuwsblad, terbitan 13-12-1893
"KECELAKAAN KERETA API. Kereta ekspres, yang berangkat dari Batavia kemarin (12/12/1893-red) sore pukul 4:20, mengalami nasib buruk karena memasuki jalur buntu di dekat stasiun Passer Minggoe akibat wesel yang salah posisi, sehingga lokomotif menabrak tanggul tanah."
Dua kutipan itu, sepertinya cukup sebagai bukti betapa Pasar Minggu merupakan salah satu daerah penting penyokong DKI Jakarta sebagai kota metropolitan sejak masa silam.
Seperti diceritakan Haris Jauhari, wartawan kawakan yang menuliskannya dalam laman Facebook miliknya.
Bang Haris, begitu saya menyapanya, bukan 'orang jauh'. Kelahiran 1 Mei 1960 ini aktif membangun organisasi jurnalis di Indonesia ini. Mantan Pemimpin Redaksi Televisi Pendidikan Indonesia ini sudah tinggal di kawasan Pasar Minggu, Pejaten dan Kebagusan, sejak puluhan tahun lalu. Menurut pengakuannya, engkongnya pun berasal dari Tanah Betawi.
Tanahnya?
Jangan tanya! Boleh jadi seluruh kawasan Pasar Minggu dan Pejaten, dalam kuasa keluarga besarnya. Tapi ini spekulasi saya, karena Bang Haris sendiri tak pernah mengakui perihal ini.
Kini, ia tinggal di komplek yang berbatasan dengan Pasar Minggu. Dalam laman Facebook miliknya, ia menceritakan secara asyik, sejarah Pasar Minggu. Atas izinnya, Betawipedia mengutip status di lamannya itu. Berikut tulisannya:
"Posting yang lalu mungkin mengejutkan mereka yang mengenal Pasar Minggu.
Seperti sahabat saya, senior di waktu kuliah, puluhan tahun berumah di Pasar Minggu, Maria Natali Malkan, Nana.
Ia tahu hampir semua hal tentang wilayah ini, kecuali masa lalunya. Begitu juga hampir semua orang Pasar Minggu. Asli maupun pendatang.